AUTISME
1. Pengertian
autisme
Istilah autisme pertama kali
diperkenalkan oleh Leo Kanner pada tahun 1943,
walaupun gangguan ini sudah ada sejak berabab-abab yang lampau. Istilah
autisme berasal dari kata “auto” yang
berarti sendiri. Jadi penyandang autisma seakan-seakan hidup di dunianya
sendiri (Handojo, 2006). Autisme merupakan gangguan perkembangan berat yang
dapat dideteksi sejak usia sebelum tiga tahun, dan ditandai dengan adanya
masalah interaksi sosial, gangguan bahasa maupun perilaku, baik perilaku yang berlebihan
(hiperaktif) maupun perilaku berkekurangan. Leo Kanner (1043) mendeskripsikan
autisme sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan
berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, pembalikan kalimat,
serta adanya aktivitas repetitif dan stereotetip, rute ingatan yang kuat, dan
keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya.
Autisme adalah gangguan perkembangan
perilaku yang dialami anak-anak, ditandai dengan menarik diri dari kehidupan
sosial dan ketidakmampuan berkomunikasi, dan biasanya diketahui pada usia pra
sekolah, dan diawali pada usia bayi sebelum berusia tiga tahun (widiorini,
2004). Selain itu autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan
otak (www.puterakembara.com) atau double handicap dengan retardasi mental
(Handojo, 2006). Seorang anak dapat dikatakan termasuk autisme, jika memiliki
hambatan perkembangan dalam tiga aspek. Yaitu hambatan dalam interaksi
sosial-emosional, dalam komunikasi timbal-balik, dan minat yang terbatas
disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan, dan gejala-gejala tersebut
sudah terlihat sebelum usia tiga tahun (siegel, 1996).
2. Faktor
penyebab autisme
Banyak ahli sepakat bahwa pada otak
anak yang mengalami gangguan autisme terdapat kelainan. Kelainan otak atau neuro anatomis tersebut terjadi di tiga
lokasi, yaitu di lobus patietalis,
cerebellum, dan sistem limbik.
Jadi penyandang gangguan autisme disebabkan karena adanya kelainan pada ketiga
lokasi otak tersebut. Letak posisi dari otak yang mengalami kelainan tersebut
berkaitan dengan hambatan-hambatan yang dialami oleh anak autis. Handojo (2006)
menyatakan bahwa 43 % anak autis mengalami kelainan di lobus parietalis, yang mengakibatkan anak cuek dan sulit
berinteraksi dengan lingkungannya. Adapun anak autis yang mengalami kelainan di
cerebellum (otak kecil), sering
mengalami gangguan pada keseimbangan sorotonin
dan dopamin yang berkaitan dengan impuls. Akibatnya mengalami hambatan
dalam sistem sensori, daya ingat, berpikir, belajar bahasa, dan proses perhatian. Sedangkan posisi otak
pada sistem limbik berkaitan dengan
fungsi hipokampus dan amygdala yang mengontrol sistem agresi
dan emosi.
Adapun faktor penyebab yang diduga
menjadi pemicu kelainan neuro anatomis
tersebut sampai saat ini belum dapat dipastikan, tetapi beberapa yang diduga
kuat antara lain; faktor genetik atau keturunan, infeksi virus dan jamur,
kekurangan nutrisi dan ogsigenasi, serta akibat polusi udara, air, dan makanan.
Berbagai faktor penyebab kerusakan neuro
anatomis tersebut diduga terjadi selama proses kehamilan sang ibu serta
pada saat proses melahirkan. Pada masa kehamilan terjadi infeksi virus atau
karena obat-obatan yang dikonsumsi ibunya mengakibatkan kerusakan pada otak
anak, atau karena kecelakaan dan trauma ketika melahirkan akibat pendarahan
atau menghirup cairan.
3. Mengenal
gangguan autisme
Secara umum perilaku autis pada anak
mengalami dua gangguan, yaitu gangguan dalam hubungan interpersonal dan
gangguan dalam komunikasi. Perilaku autistik juga digolongkan dalam dua jenis,
yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku yang defisit
(berkekurangan). Yang termasuk perilaku eksesif adalah hiperaktif dan tantrum,
berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar, dan memukul. Dalam perilaku
eksesif juga sering dijumpai perilaku self
abuse (menyakiti diri sendiri). Sedangkan perilaku defisit ditandai dengan
gangguan bicara, perilaku sosial yang kurang sesuai (ex, naik ke pangkuan ibu
bukan untuk kasih sayang tapi meraih kue), defisit sensoris sehingga dikira
tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat, misalnya tertawa dan
menangis tanpa sebab serta melamun.
Enam gejala pokok autisme menurut
Power (1983) dapat dijadikan standar untuk mengetahui adanya gangguan autisme
atau tidak pada anak, meliputi hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi
(bicara dan bahasa), perilaku emosi, pola bermain, gangguan sensoris, dan
perkembangan yang terlambat atau tidak normal. Penampakan gejala tersebut
muncul sebelum umur tiga tahun. Hal ini juga didukung oleh Handojo (2006) yang
mengemukakan beberapa indikator autisme:
a.
Bahasa
atau komunikasi; ekspresi wajah yang datar, tidak menggunakan bahasa atau
isyarat tubuh, jarang memulai komunikasi. Kemampuan berbahasa mengalami
keterlambatan atau sama sekali tidak dapat bicara. Lancar menirukan bicara
orang lain, tetapi sulit berbicara dari diri sendiri (inisiatif komunikasi).
Menggunakan kata-kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.
Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dalam waktu singkat.
b.
Hubungan
dengan orang lain dan lingkungan; tidak responsif, tidak ada senyum sosial dan
tidak ada kontak mata. Bermain repetitif (diulang-ulang) marah atau tidak
menghendaki perubahan-perubahan dan berkembangnya rutinitas yang kaku. Anak
autis lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain.
Tidak tertarik untuk berteman, tidak bereaksi terhadap isyarat-isyarat dalam
bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan
bicaranya atau tersenyum. Mampu menggambar rinci, tetapi tidak dapat
mengkancing baju.
c.
Respon
terhadap rangsangan indera; terkadang seperti tuli, panik terhadap suara-suara
tertentu dan menarik diri ketika disentuh. Cenderung sensitif terhadap cahaya,
pendengaran, sentuhan, penciuman, dan rasa lidah dari mulai ringan sampai
berat.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statictic Manual IV) gangguan autisme didiagnosis berdasarkan:
a.
Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (minimal harus ada dua manifestasi).
(1) Perilaku non verbal: tidak ada kontak mata, ekspresi muka kurang hidup,
sikap & gerak tubuh tidak ekspresif. (2) Kegagalan dalam berhubungan dengan
anak sebaya sesuai dengan perkembangannya. (3) Tidak dapat merasakan apa yang
dirasakan orang lain (kurang empati). (4) Kurangnya hubungan sosial dan
emosional.
b.
Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi (minimal satu gejala): (1) Bicara
terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tidak ada usaha untuk
mengimbangi komunikasi dengan cara lain). (2) Jika bisa bicara tidak dipakai
untuk berkomunikasi, (3) Sering menggunakan bahasa yang aneh dan berulang-ulang,
(4) Cara bermain kurang bervariasi, kurang imaginatif, dan kurang bisa meniru.
c.
Suatu pola yang dipertahankan & diulang-ulang dalam perilaku, minat dan
kegiatan (minimal satu gejala): (1) Mempertahankan satu minat atau lebih dengan
cara yang sangat khas dan berlebihan. (2) Terpaku pada satu kegiatan ritual
atau rutin yang tidak ada gunanya. (3) Terdapat gerakan-gerakan aneh yang khas
berulang-ulang. (4) Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda.
d.
Sebelum usia tiga tahun tampak adanya
keterlambatan atau gangguan dalam: (1) Interaksi sosial. (2) Bicara dan
berbahasa. (3) Cara bermain yang kurang variatif
Dahulu autisme dianggap sebagai
gangguan seumur hidup, tetapi kini ternyata autisme masa kanak-kanak ini dapat
dikoreksi. Tata laksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini mungkin,
sebaiknya jangan melebihi 5 tahun karena di atas usia ini perkembangan otak
anak akan sangat melambat. Usia paling ideal adalah 2-3 tahun, karena pada usia
ini perkembangan otak anak berada pada tahap paling cepat. Di samping itu lama
terapi yang rata-rata 2-3 tahun, dapat mempersiapkan anak untuk memasuki
sekolah reguler sesuai dengan umurnya. Oleh karena itu diagnosa harus
ditegakkan sedini mungkin, artinya anak harus segera dikonsultasikan kepada
psikolog, psikiater anak atau langsung ke center autis berpengalaman.
Untuk deteksi dini menurut Handojo
(2006) sebaiknya orang tua waspada terhadap gejala-gejala berikut; anak usia 30
bulan belum bisa bicara untuk komunikasi, hiperaktif dan cuek dengan orang tua
dan orang lain, tidak bisa main dengan teman sebayanya, dan ada perilaku aneh
yang sering diulang-ulang. Karakteristik penyandang autisme, pada umumnya
selektif berlebihan terhadap rangsang, kurangnya motivasi untuk menjelajahi
lingkungan baru, kurangnya respon stimulasi diri sehingga menganggu integrasi
sosial, respon unik terhadap reinforcement
(imbalan). Sejak lahir sampai dengan umur 24-30 bulan anak-anak yang mengalami
autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan
seperti keterlambatan bicara, bermain dan berteman (bersosialisasi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar