Jumat, 26 Februari 2016

AUTISME

AUTISME

1. Pengertian autisme
Istilah autisme pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner pada tahun 1943,  walaupun gangguan ini sudah ada sejak berabab-abab yang lampau. Istilah autisme berasal dari kata “auto” yang berarti sendiri. Jadi penyandang autisma seakan-seakan hidup di dunianya sendiri (Handojo, 2006). Autisme merupakan gangguan perkembangan berat yang dapat dideteksi sejak usia sebelum tiga tahun, dan ditandai dengan adanya masalah interaksi sosial, gangguan bahasa maupun  perilaku, baik perilaku yang berlebihan (hiperaktif) maupun perilaku berkekurangan. Leo Kanner (1043) mendeskripsikan autisme sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, pembalikan kalimat, serta adanya aktivitas repetitif dan stereotetip, rute ingatan yang kuat, dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya.
Autisme adalah gangguan perkembangan perilaku yang dialami anak-anak, ditandai dengan menarik diri dari kehidupan sosial dan ketidakmampuan berkomunikasi, dan biasanya diketahui pada usia pra sekolah, dan diawali pada usia bayi sebelum berusia tiga tahun (widiorini, 2004). Selain itu autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak (www.puterakembara.com) atau double handicap dengan retardasi mental (Handojo, 2006). Seorang anak dapat dikatakan termasuk autisme, jika memiliki hambatan perkembangan dalam tiga aspek. Yaitu hambatan dalam interaksi sosial-emosional, dalam komunikasi timbal-balik, dan minat yang terbatas disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan, dan gejala-gejala tersebut sudah terlihat sebelum usia tiga tahun (siegel, 1996).
2. Faktor penyebab autisme
Banyak ahli sepakat bahwa pada otak anak yang mengalami gangguan autisme terdapat kelainan. Kelainan otak atau neuro anatomis tersebut terjadi di tiga lokasi, yaitu di lobus patietalis, cerebellum, dan sistem limbik. Jadi penyandang gangguan autisme disebabkan karena adanya kelainan pada ketiga lokasi otak tersebut. Letak posisi dari otak yang mengalami kelainan tersebut berkaitan dengan hambatan-hambatan yang dialami oleh anak autis. Handojo (2006) menyatakan bahwa 43 % anak autis mengalami kelainan di lobus parietalis, yang mengakibatkan anak cuek dan sulit berinteraksi dengan lingkungannya. Adapun anak autis yang mengalami kelainan di cerebellum (otak kecil), sering mengalami gangguan pada keseimbangan sorotonin dan dopamin yang berkaitan dengan impuls. Akibatnya mengalami hambatan dalam sistem sensori, daya ingat, berpikir, belajar bahasa,  dan proses perhatian. Sedangkan posisi otak pada sistem limbik berkaitan dengan fungsi hipokampus dan amygdala yang mengontrol sistem agresi dan emosi.
Adapun faktor penyebab yang diduga menjadi pemicu kelainan neuro anatomis tersebut sampai saat ini belum dapat dipastikan, tetapi beberapa yang diduga kuat antara lain; faktor genetik atau keturunan, infeksi virus dan jamur, kekurangan nutrisi dan ogsigenasi, serta akibat polusi udara, air, dan makanan. Berbagai faktor penyebab kerusakan neuro anatomis tersebut diduga terjadi selama proses kehamilan sang ibu serta pada saat proses melahirkan. Pada masa kehamilan terjadi infeksi virus atau karena obat-obatan yang dikonsumsi ibunya mengakibatkan kerusakan pada otak anak, atau karena kecelakaan dan trauma ketika melahirkan akibat pendarahan atau menghirup cairan.
3. Mengenal gangguan autisme
Secara umum perilaku autis pada anak mengalami dua gangguan, yaitu gangguan dalam hubungan interpersonal dan gangguan dalam komunikasi. Perilaku autistik juga digolongkan dalam dua jenis, yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku yang defisit (berkekurangan). Yang termasuk perilaku eksesif adalah hiperaktif dan tantrum, berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar, dan memukul. Dalam perilaku eksesif juga sering dijumpai perilaku self abuse (menyakiti diri sendiri). Sedangkan perilaku defisit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial yang kurang sesuai (ex, naik ke pangkuan ibu bukan untuk kasih sayang tapi meraih kue), defisit sensoris sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat, misalnya tertawa dan menangis tanpa sebab serta melamun.
Enam gejala pokok autisme menurut Power (1983) dapat dijadikan standar untuk mengetahui adanya gangguan autisme atau tidak pada anak, meliputi hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi (bicara dan bahasa), perilaku emosi, pola bermain, gangguan sensoris, dan perkembangan yang terlambat atau tidak normal. Penampakan gejala tersebut muncul sebelum umur tiga tahun. Hal ini juga didukung oleh Handojo (2006) yang mengemukakan beberapa indikator autisme:
a.        Bahasa atau komunikasi; ekspresi wajah yang datar, tidak menggunakan bahasa atau isyarat tubuh, jarang memulai komunikasi. Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat bicara. Lancar menirukan bicara orang lain, tetapi sulit berbicara dari diri sendiri (inisiatif komunikasi). Menggunakan kata-kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dalam waktu singkat.
b.        Hubungan dengan orang lain dan lingkungan; tidak responsif, tidak ada senyum sosial dan tidak ada kontak mata. Bermain repetitif (diulang-ulang) marah atau tidak menghendaki perubahan-perubahan dan berkembangnya rutinitas yang kaku. Anak autis lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman, tidak bereaksi terhadap isyarat-isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. Mampu menggambar rinci, tetapi tidak dapat mengkancing baju.
c.        Respon terhadap rangsangan indera; terkadang seperti tuli, panik terhadap suara-suara tertentu dan menarik diri ketika disentuh. Cenderung sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan rasa lidah dari mulai ringan sampai berat.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statictic Manual IV) gangguan autisme didiagnosis berdasarkan:
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (minimal harus ada dua manifestasi). (1) Perilaku non verbal: tidak ada kontak mata, ekspresi muka kurang hidup, sikap & gerak tubuh tidak ekspresif. (2) Kegagalan dalam berhubungan dengan anak sebaya sesuai dengan perkembangannya. (3) Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain (kurang empati). (4) Kurangnya hubungan sosial dan emosional.
b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi (minimal satu gejala): (1) Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain). (2) Jika bisa bicara tidak dipakai untuk berkomunikasi, (3) Sering menggunakan bahasa yang aneh dan berulang-ulang, (4) Cara bermain kurang bervariasi, kurang imaginatif, dan kurang bisa meniru.
c. Suatu pola yang dipertahankan & diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan (minimal satu gejala): (1) Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan. (2) Terpaku pada satu kegiatan ritual atau rutin yang tidak ada gunanya. (3) Terdapat gerakan-gerakan aneh yang khas berulang-ulang. (4) Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda.
d. Sebelum usia tiga tahun tampak adanya  keterlambatan atau gangguan dalam: (1) Interaksi sosial. (2) Bicara dan berbahasa. (3) Cara bermain yang kurang variatif
Dahulu autisme dianggap sebagai gangguan seumur hidup, tetapi kini ternyata autisme masa kanak-kanak ini dapat dikoreksi. Tata laksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini mungkin, sebaiknya jangan melebihi 5 tahun karena di atas usia ini perkembangan otak anak akan sangat melambat. Usia paling ideal adalah 2-3 tahun, karena pada usia ini perkembangan otak anak berada pada tahap paling cepat. Di samping itu lama terapi yang rata-rata 2-3 tahun, dapat mempersiapkan anak untuk memasuki sekolah reguler sesuai dengan umurnya. Oleh karena itu diagnosa harus ditegakkan sedini mungkin, artinya anak harus segera dikonsultasikan kepada psikolog, psikiater anak atau langsung ke center autis berpengalaman.

Untuk deteksi dini menurut Handojo (2006) sebaiknya orang tua waspada terhadap gejala-gejala berikut; anak usia 30 bulan belum bisa bicara untuk komunikasi, hiperaktif dan cuek dengan orang tua dan orang lain, tidak bisa main dengan teman sebayanya, dan ada perilaku aneh yang sering diulang-ulang. Karakteristik penyandang autisme, pada umumnya selektif berlebihan terhadap rangsang, kurangnya motivasi untuk menjelajahi lingkungan baru, kurangnya respon stimulasi diri sehingga menganggu integrasi sosial, respon unik terhadap reinforcement (imbalan). Sejak lahir sampai dengan umur 24-30 bulan anak-anak yang mengalami autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan bicara, bermain dan berteman (bersosialisasi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar